Selasa, 07 Juli 2015

Hijab?

Akhir-akhir ini, sedang ngetrennya kaum hawa memakai baju hijab, dan juga banyak pula artis-artis di layar kaca yang mempopulerkan tren hijab, bahkan sampai banyak komunitas "hijabers" yang beranggotakan kaum hawa yang berhijab dengan segala jenisnya.

Alhamdulillah, ini merupakan suatu kemajuan. Tetapi, masih banyak kaum hawa yang salah kaprah dalam menerapkan hijabnya, tidak sesuai dengan syariat ajaran islam, seperti berhijab dengan baju ketat, warna mencolok, atau dengan style yang berlebihan, seperti punuk unta.

Padahal, Nabi Muhammad SAW. telah memperingatkan jauh-jauh hari soal hal ini.



Rasulullah SAW bersabda:
مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلاَتٌ مَائِلاَتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا
۞رواه أحمد ومسلم في الصحيح ۞
“Ada dua golongan penduduk neraka yang belum aku melihat keduanya. Kaum yang membawa cemeti seperti ekor sapi untuk mencambuk manusia (maksudnya penguasa yang dzalim), dan perempuan-perempuan yang berpakaian tapi telanjang, cenderung kepada kemaksiatan dan membuat orang lain juga cenderung kepada kemaksiatan. Kepala-kepala mereka seperti punuk-punuk unta yang berlenggak-lenggok. Mereka tidak masuk surga dan tidak mencium bau wanginya. Padahal bau wangi surga itu tercium dari jarak perjalanan sekian dan sekian waktu (jarak jauh sekali),” (HR. Muslim dan yang lain).

Dan ganjaran bagi orang-orang yang seperti ini adalah tidak masuk surga. Bahayoa kan? Karena itu, marilah kita senantiasa saling mengingat satu sama lain.


Valentine & Masalah

Beberapa waktu lalu, banyak diantara kawula muda seolah gagap gempita, berduaan dengan pasangan lawan jenis, memberi coklat ke pasangannya, dan lain sebagainya.

Valentine. Hari Kasih Sayang. Entah siapa yang mendoktrin dan mengajarkan budaya ini ke negeri kita tercinta, Indonesia. Menurut beberapa sumber, Valentine dirayakan karena pendeta yang dihukum mati karena asmara.

Menurut sepenglihatan saya, Valentine seolah penghalalan ajang bercinta, pacaran, dan hal semacam itu. Miris melihat, di tempat-tempat umum, dengan percaya diri pasangan lawan jenis memperlihatkan kemesraannya, kok malah saya yang malu?

Fakta memperlihatkan bahwa Valentine telah menjadi ajang pergaulan bebas, sampai sampai terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Hal ini tentu saja membuat para orang tua was-was.

MUI sudah menfatwakan, bahwa Valentine merupakan budaya barat yang tidak sesuai dengan ajaran Islam, dan wajib dihindari.

Wakil Sekretaris Jendral MUI, K.H Tengku Zulkarnain menyatakan, bahwa budaya ikut-ikutan ini harus dicegah, bahkan wajib dicegah (Republika, 14 Februari 2014)

Ia menegaskan pula, di Islam tidak ada hari khusus kasih sayang, melainkan setiap hari adalah hari kasih sayang.

Rasulullah S.A.W pernah bersabda, "Barangsiapa yang tidak memiliki rasa kasih sayang maka orang itu tidak akan disayangi. Sayangilah seluruh penduduk bumi, maka seluruh penduduk bumi akan menyayangimu."

Fakta juga menunjukkan, bahwa Valentine bukanlah hari kasih sayang, melainkan hari melampiaskan nafsu. Sudah bukan rahasia lagi, bahwa banyak seks bebas terjadi hari itu. Bahkan pernah tercantum di sebuah sumber bahwa
di Tempat Wisata banyak ditemukan kondom-kondom bekas berserakan dan beberapa diantaranya bahkan masih dikerubuti semut. Budaya ini pula identik dengan hura-hura, hiburan malam, dan obat-obatan terlarang yang merusak moral.

Banyak orang, yang istilahnya "Islam KTP", hanya namanya saja, tapi dangkal ilmu agamanya, ikut-ikutan dalam budaya jahiliah ini.

Khalifah Umar Bin Khattab R.A, pernah berkata, "Barangsiapa yang tidak tahu apa itu jahiliah, sungguh ia telah termasuk kedalamnya."

Apa masyarakat sekarang ini termasuk dalam kaum jahiliah? Tentu setiap pribadi punya persepsi masing-masing.

Inginkah generasi muda kita termasuk dalamnya? Tentu tidak.
Bukan tugas Ulama atau Orang Tua saja, tetapi guru, teman, dan lingkungan juga harus turut mendukung pencegahan budaya ini. Mediapun juga harus berperan aktif dalam mencegah budaya ini, bukannya malah menyebarkan dan mengajak masyarakat dalamnya. Akankah pemerintah dan seluruh elemen masyarakat dapat mencegah masalah ini? Semoga.